
Judul Buku : Tersesat Setelah Terlahir Kembali
Penulis: Yoga Zen
Penerbit: Marjin Kiri
Cetakan 1: Januari 2025
Tebal: iv + 170 hlm; 14 x 20,3 cm
Ada suatu keyakinan lama yang diam-diam masih kita warisi, bahwasanya setiap kelahiran kembali adalah jalan pulang menuju penebusan. Kita gemar membayangkan manusia yang setelah jatuh dan remuk, akan bangkit dengan wajah yang lebih berseri. Namun, dalam Tersesat Setelah Terlahir Kembali, Yoga Zen memilih untuk ragu dan mencurigai keyakinan itu. Ia mencoba memahaminya dengan lebih muram, seolah ingin bertanya: bagaimana jika menjadi baru bukanlah sebuah awal yang terang, tapi pintu menuju labirin yang lebih gelap? Bagaimana jika setiap upaya untuk memantaskan diri justru membuat kita semakin asing dengan detak jantung sendiri?
Struktur Puzzle dan Identitas yang Terasing
Narasi tentang pencarian identitas diri atau pulang ke akar budaya sejatinya sudah jamak ditemui dalam sastra Indonesia. Sebut saja, misalnya, Pulang karya Leila S. Chudori yang berkelindan dengan memori eksil, Amba karya Laksmi Pamuntjak yang menguak nasib, hingga karya klasik yang memotret benturan identitas dan adat dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka. Namun, berbeda dengan kisah-kisah yang terjebak dalam romantisasi tradisi, novel terbaru ini justru menyodorkan wajah yang lebih skeptis—narasi yang dingin dan sepi.
Keunggulan estetikanya terletak pada bagaimana cerita ini menolak linearitas, yang hadir sebagai pecahan-pecahan kesadaran yang menuntut pembaca untuk berhenti dan meraba maknanya secara mandiri. Strategi fragmentaris ini mengingatkan kita pada teknik William Faulkner dalam The Sound and the Fury, bahwasannya realitas hanyalah kepingan ingatan yang tak pernah padu. Bahkan, dalam spektrum psikologis yang lebih menggebu-gebu, kegamangan tokoh utama terhadap realitasnya membangkitkan memori kita pada fragmen disosiatif dalam film laga Fight Club, potret tentang bagaimana tekanan identitas mampu membelah kewarasan manusia.
Novel ini berkisah tentang seorang lelaki yang melalui pernikahan, seolah dilempar kembali ke rahim dunia yang asing baginya. Ia memasuki tatanan Minangkabau yang matrilineal—sebuah semesta dengan garis adat yang telah terpancang jauh sebelum ia datang. Sebagai sumando—sebutan untuk menantu laki-laki yang menetap di rumah keluarga istrinya—ia hidup dalam posisi yang serba tanggung: tamu dalam keluarga istri, yang harus belajar menyerap tradisi, sekaligus menepatkan diri dalam struktur sosial yang canggung. Ketanggungan dan kecanggungan ini membuka ruang bagi kejanggalan lain. Ketertarikannya pada Leman yang dicap gila perlahan berubah menjadi obsesi. Ia kehilangan jarak, tenggelam dalam relasi yang nadir:
“Aku memutuskan tinggal bersama seorang pensiunan tentara yang lebih dikenal sebagai orang gila di kota kami.” (hlm. 1)
Langkah ini dapat dibaca sebagai simbol awal bahwa perjalanan sang tokoh memang tidak akan menempuh jalan yang waras. Persinggungannya dengan sosok “pensiunan tentara yang dikenal sebagai orang gila” difungsikan sebagai hook naratif yang berhasil menjerat rasa penasaran pembaca, sekaligus tuntunan ke dalam dunia batin sang tokoh, yang dalam kalimat selanjutnya ia mengakui,
“obsesiku terhadap orang gila itu memang menenggelamkanku ke dalam penderitaan yang tak ada habisnya.” (hlm. 5)
Obsesi. Awal yang menjadi kunci penting dalam novel ini, sebab di sinilah narasi mulai menyingkap pola yang akan terus berulang, yang selalu menjelma luka baru untuk dirinya. Penggambaran tokoh orang gila ini juga tidak semata hadir sebagai pinggiran, meski tak banyak bicara ia tetap terasa hidup dalam cerita dan difungsikan sebagai cermin yang memantulkan kegamangan batin sang tokoh utama, perihal kegilaannya, keterasingannya, serta dorongan untuk melarikan diri dari tatanan yang menuntutnya terus tampak waras.
Performa Maskulinitas yang Melelahkan
Dalam kegamangan dan keterasingannya, tokoh utama ini justru kian terjerat dalam upaya memantaskan diri demi pengakuan sosial, yang dalam novel ini termanifestasi lewat ritual berburu babi. Sebuah arena sosial dengan aturan, hierarki, dan mekanisme legitimasi. Sang tokoh memasuki arena itu tanpa modal simbolik yang memadai, namun dituntut segera berperilaku seolah ia telah lama menguasai permainannya. Ia harus beradaptasi untuk mengakumulasi modal agar tidak dianggap sebagai “orang asing” atau beban di tanah istrinya. Ia mencoba menegakkan punggung di tengah tuntutan adat yang riuh, memanggungkan maskulinitas ini bersama Oho dan Mak Utiah, meski beberapa kali ditertawakan karena ketidaktahuannya perihal dunia berburu.
Pada pembacaan yang lebih jeli kita bisa membaca perburuan ini dengan segala perlengkapannya; senapan, pisau dan anjing buru, bisa dimaknai sebagai instrumen performatif untuk meraih legitimasi kejantanan. Namun, celakanya, habitus aslinya menolak untuk berkompromi dengan praktik lapangan tersebut.
Dalam sebuah momen, ia berujar:
“…aku sadar bahwa tempat ini memang tak cocok bagiku sebagaimana aku tidak ditakdirkan memelihara anjing, dan semestinya itu tidak aku paksakan.” (hlm. 21)
Kutipan ini menandai adanya keretakan simbolik dalam tubuh sang tokoh yang terus dipaksa mengikuti yang bukan dirinya, ia diharuskan menerima dan mengikuti standar kejantanan yang melelahkan, meski ia tahu itu asing bagi dirinya. Juga memberikan paham alternatif bahwa dalam sistem matrilineal sekalipun, laki-laki bisa menjadi korban dari ekspektasi patriarkal tak kasat mata; sebuah jebakan diktum yang mengharuskan mereka menjadi gagah untuk memenuhi standar maskulinitas yang pada akhirnya hanya menyisakan keterasingan yang lebih dalam pada tubuh laki-laki.
Ambiguitas dan Inkonsistensi
Narasi ini kemudian melebar, menjalar ke dalam fragmen-fragmen yang saling berkelindan: ingatan tentang peristiwa ’65, kritik terhadap institusi pendidikan melalui guru agama yang melakukan child grooming, hingga relasi queer antara Mak Utiah dan Leman yang muncul secara tiba-tiba. Namun, relasi tersebut seolah tampil hanya sebagai kejutan naratif. Ada kesan fetisisasi yang tak memiliki alasan dan kedalaman ruang yang jelas. Meski tokoh “Aku” digambarkan menerima hubungan tersebut, penerimaan itu tetap terasa sepihak. Mak Utiah, sebagai subjek, tidak diberi kedaulatan untuk bersuara, membiarkan pembaca hanya mampu mengintip melalui kegamangan pandangan sang tokoh utama.
Kekagetan itu terpampang jelas saat sang tokoh utama menyaksikan sesuatu yang meruntuhkan definisinya tentang otoritas maskulin:
“…bulu kudukku mendadak berdiri ketika menyaksikan Mak Utiah secara sadar membalas ciuman, memagut bibir bajingan itu dengan gairah yang menggelora.” (hlm. 101)
Persoalan menjadi kian pelik ketika kepingan-kepingan isu itu tidak selalu dijahit dengan disiplin teknis yang konsisten. Fragmen-fragmen hadir tanpa penanda yang cukup, sehingga pembaca dibiarkan meraba: apakah yang tersaji ini bagian dari dunia cerita, pantulan ingatan traumatik, atau sekadar riuh batin yang tak terartikulasikan. Ambiguitas yang sejatinya berpotensi menjadi kekuatan estetik justru kerap berbelok menjadi kebingungan, terutama ketika narasi mendadak berpindah dari suara orang pertama yang intim ke sudut pandang orang ketiga yang serba mengetahui. Inkonsistensi ini membuat keutuhan cerita terasa goyah seakan kendali atas narasi sesekali terlepas dari tangan penulis sendiri.
Merayakan Ketidakpastian
Walhasil, Tersesat Setelah Terlahir Kembali tampil sebagai sebuah eksperimen sastra yang berani, sekaligus penuh luka. Meski tertatih secara teknis di beberapa bagian, Yoga Zen tetap berhasil memotret sisi gelap dari apa yang kerap kita sebut sebagai “kesempatan kedua” yang menunjukkan bahwa kelahiran kembali bukanlah garis finis menuju kebahagiaan, melainkan sebuah putaran baru untuk mengenali bentuk-bentuk kehilangan yang berbeda.
Buku ini menawarkan cermin retak yang memaksa kita menatap diri sendiri di tengah desakan tradisi dan standar maskulinitas yang mencekik. Dan dari sana kita bisa memahami bahwa tersesat barangkali adalah satu-satunya jalan yang paling jujur untuk memahami makna “pulang” bahkan ketika rumah yang dituju telah lama berubah menjadi sesuatu yang asing nan dingin.
Penulis Resensi: Maysha Yusuf Fadillah
