Semua Orang Punya Asam Lambung: Punya Negara Sudah Sampai Paru-Paru

image

Judul buku: BREAD ROSES

Penulis: Levia Ekaputri

Penerbit: Untitled.Press

Cetakan 3: Januari 2025

Tebal: iii + 61 hlm; 13 x 19 cm

Kiranya melelahkan jika membicarakan persoalan-persoalan negeri yang tiada habis. Never-ending loops. Kita terus bergerak dalam apa yang bisa dibaca sebagai siklus kekuasaan-perlawanan, atau lebih tepatnya, siklus represi-resistensi-kooptasi. Mula-mula, kewenangan dikonsolidasikan: aturan menebal, kontrol dipadatkan, aparat dilegitimasi atas nama stabilitas. Ketika rakyat sampai pada kesadaran bahwa ada yang tidak beres dan melakukan resistensi, maka hal itu dengan cepat dicap kriminalitas, mengganggu, liar, bahkan radikal. Dari sana, represi terbuka digencarkan, negara memperlihatkan bahwa merekalah yang memegang kendali tentang senjata, hukum, dan narasi. Rasa duka kemudian hadir sebagai trauma kolektif: korban jatuh, ketakutan menyebar, dan luka disimpan dalam ingatan bersama. Amarah rakyat pun beralih rupa menjadi tuntutan keadilan, kemanusiaan dan tanggung jawab. Pemerintah lantas melunak sejenak dengan wacana rekonsiliasi, atau sekedar evaluasi hingga tercipta stabilisasi sementara bukan karena persoalannya selesai, melainkan karena kelelahan. Setelah itu, kewenangan kembali menebal, dan siklus tersebut direproduksi ulang: spiral kekuasaan. Never-ending loops.

Jika harus dilakukan berulang kali, hal pasti yang bisa dipetik adalah suara kita hanyalah gema di ruang hampa tanpa pendengar. Atau sejak awal memang sudah didengar bersama dengan pengendalian pada tahap mereka bisa memastikan bahwa yang tersisa hanyalah harapan kecil. Hal ini menemukan pararelnya dalam film Hunger Games, dari Presiden Snow pemimpin The Capital: ‘harapan lebih kuat dari rasa takut’ dan ‘ledakan tak akan bahaya jika ia dikendalikan’. Jika beberapa orang berkata, tidak ada yang perlu ditakutkan dari mereka, sesama manusia. Jadi gantinya adalah harapan agar setidaknya moncong senjata tidak menempel di dahi saat pelatuknya ditarik atau kembali pada garis awal, ingin didengarkan, di sisi lain mereka sibuk cuci tangan, cuci nama, cuci uang, dan seterusnya. 

Itulah gambaran realita yang saya lihat dalam buku kumpulan puisi karya Levia. Diterbitkan oleh Untitled Press, Breadroses memuat puisi-puisi yang bergerak di antara persoalan negara, tubuh, keluarga, dan relasi personal. Tiap-tiap lembar yang berisi persoalan berbeda hanya merujuk pada satu kenyataan bahwa rakyat lelah dengan permainan negara.

Kelelahan Kolektif

Mari kita saling telanjang tentang beberapa isu yang menumpuk hingga lahirlah kelelahan kolektif. Baris “ternyata, seragam toga berhasil kalah dari sesuap nasi” (hal 1) bisa dikatakan di mana pencapaian intelektual tidak ada artinya ketika berhadapan dengan tuntutan dasar untuk bertahan hidup. Ini adalah kritik tajam bahwa kemiskinan merajalela lebih cepat daripada kesempatan yang ditawarkan pendidikan atau secara satir menunjukkan bahwa “seragam toga” lebih mudah didapatkan bagi mereka di sana daripada sesuap nasi bagi mereka di sini. Kondisi ini menciptakan energi rakyat habis hanya untuk urusan perut, membuat mereka terlalu lelah untuk memikirkan hal-hal besar lainnya.

Tidak pernah habis, isu mengenai ‘liarnya’ beberapa pihak juga masuk ke dalam frame Breadroses, memicu duka yang berkelindan bagai “lelehan api pada semenanjung janji-janji negara”, di mana sebuah janji dibuat untuk dilupa dan dilanggar membuat harapan rakyat kian menipis dan mati. Barangkali kita hanyalah boneka yang bersorak-sorai saat dibutuhkan, kemudian mereka mengalami gegar otak permanen. Saya akan.., kami akan.., kita akan.., mari bersama.., kenapa.. mereka.. menjilat.. liur mereka.. sendiri? Atau mereka hanya bersandiwara karena “borgol-borgol berserakan… penjara tak lagi… memakai jeruji besi”. 

Realitanya adalah kita menetap di institusi yang sakit kronis dan terus-menerus melakukan cuci darah untuk bertahan hidup dari korupsi dan ketidakadilan. Di tengah kondisi kritis ini, dunia intelektual atau sastra disindir karena hanya “ribut saja” tanpa memberi dampak nyata. Sistem yang terus menebal itu menyediakan dua jalan keluar yang sama-sama tragis:

  1. Mati cepat bagi mereka yang berani memberontak dan dihantam “pentungan iblis”.
  2. Mati lambat dengan menelan omong kosong harapan dan “antibiotik undang-undang generik” yang hanya meredam gejala tanpa menyembuhkan penyakit sistemik negeri ini.

Puisi negeri, ialah rumah sakit (hal 20) memperjelas keadaan mereka di sini dengan menggambarkan rakyat sebagai pasien yang “menidurkan darah” melalui suntikan outsourcing dan investasi gadungan. Negara menggunakan “infus orasi” di atas ranjang kuasa untuk memastikan rakyat tetap terbius dan tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam ruang VIP yang sebenarnya adalah sel isolasi. Mereka memastikan kita tetap dalam kendali agar mereka bisa tetap bermain. Pertanyaannya adalah ‘mau sampai kapan?’

Perempuan

Persoalan perempuan dalam puisi Suara dari Ovarium (hal 22) mengungkap bagaimana negara dan sistem besar (kolaborasi kapitalis + patriarki) berusaha menjinakkan eksistensi perempuan melalui simbolisme dangkal. Negara merasa cukup hadir hanya dengan mengajarkan “cara memakai pembalut” atau merayakan “simbolisme kebaya di Hari Kartini”, sebuah upaya sistemik untuk mengunci perempuan dalam fungsi biologis dan estetika semata.

Jika ditelusuri jejaknya, ini bukanlah hal yang begitu baru terjadi. Jika dalam The Second Sex laki-laki diposisikan sebagai Subjek atau Sang Mutlak, sementara perempuan ditetapkan sebagai The Other, maka Levia sedang memotret hasil dari pembungkaman berabad-abad dengan bertanya, “Mengapa aku banyak bicara soal negara? Memangnya boleh ya?”. Dengan kata lain, perempuan adalah pajangan yang tidak memiliki otoritas dalam urusan publik. 

Penggabungan di atas menunjukkan realita yang terjadi tentang suara perempuan yang dianggap sesuatu yang “menganggu” tatanan rasional laki-laki. Karena perempuan adalah objek yang “terlalu emosional”, baiknya dijadikan penonton di pinggiran sejarah, bukan agen yang mengubah wajah dunia. Kemudian, ketika ia mencoba keluar dari statusnya sebagai pajangan, kritik vokalnya dianggap negatif dan tak wajar. Dalam kacamata mereka di sana, “ledakan” aspirasi dari rahim ini harus dikendalikan agar tidak membahayakan stabilitas sistem yang sudah nyaman dengan dominasi satu pihak. 

Kepemilikan

Sejak dulu, sejak zaman nenek moyang kita, isu kepemilikan selalu menemukan jalan buntu untuk dihindari. Kalau saja bagian bumi yang diperebutkan itu bisa berbicara, maka mustahil kedua kubu bisa memilikinya. Namun, ketika kita berbicara soal ‘kepemilikan’, bukankah harusnya bagian bumi itu sudah memiliki pemiliknya, kemudian entah berantah muncul pihak yang seolah memiliki seluruh bagian bumi. Apapun alasannya, tidakkah dalam hakikatnya agar janganlah sepatu atau kaki bangsa asing berinjak di keping-keping bumi mereka? Kepingan tanah seperti yang kita genggam ini juga. Mereka punya. Kita punya – Tidak Ada Esok oleh Mochtar Lubis.

Dalam Breadroses, Levia membawa kita pada bentuk perampasan hak milik paling dasar manusia yaitu, tubuh, ruang hidup, dan martabat oleh kekuatan besar. Dalam puisi The Sky, 2025 (hal 35), narasi kepemilikan ini berkelindan dengan tragedi kemanusiaan di Palestina. Di sini, “kepemilikan” atas hidup dihancurkan hingga menjadi “fragmen-fragmen”. Metafora tubuh yang terpecah akibat “hujan misil” menunjukkan bahwa dalam peperangan, manusia tidak lagi memiliki dirinya sendiri secara utuh; mereka hanyalah objek yang hancur di bawah langit yang telah “musnah”. Menariknya, ketika kepemilikan duniawi ini dirampas habis, penulis mengalihkan tuntutan keadilan ke ranah spiritual, meminta agar “fragmen-fragmen ini” dibawa ke “langit ketujuh” pada sepertiga malam: protes terakhir ketika bumi tak lagi memberi ruang bagi mereka untuk bernapas.

Perampasan ruang hidup ini berlanjut secara sistematik dalam puisi Papua, Papua (hal 36), selaras dengan perjuangan Suku Awyu dan Suku Moile dalam mempertahankan hutan adat mereka dari ekspansi korporasi sawit yang akhir-akhir ini kita kenal sebagai All Eyes on Papua. Kekuatan besar yang merampas menganggap bahwa kepemilikan hanyalah sebuah sertifikat, tidak memahami adanya hubungan batin antara masyarakat adat dan “saraf-saraf hutan” yang kini terjepit di antara “kendaraan bajingan”. Levia memotret dalam puisi ini, duka seorang ibu yang harus berjalan kaki meninggalkan “ribuan hektar tanahnya sendiri”, sebuah gambaran paling nyata dari de-humanisasi akibat eksploitasi. 

Kehilangan tanah maka hilanglah kedaulatan atas tubuh. Masyarakat mengalami “kekurangan gizi” hingga perut mereka berteriak menanyakan di mana mereka boleh menginjakkan kaki, ke mana harusnya ketika tubuh terjepit di antara langit yang mengancam dan bumi yang dirampas. Ini adalah puncak dari ‘asam lambung negara’, selain gagal memberi makan, negara justru memakan ruang hidup rakyatnya sendiri hingga mereka jadi “tidak berbahasa” karena duka yang terlalu dalam. 

Jika boleh, puisi-puisinya memang seperti bunga mawar yang ‘dimakan’ karena cantiknya, karena warna, karena lekukan-lekukan kelopak saling memeluk, karena harumnya. Tetapi sewajarnya mawar adalah memiliki batang berduri dan duri-durinya mulai naik turun di tenggorokan sampai anyir darah bisa terasa ikut tertelan seperti keelokan negara ini. Dan sebagai pendukung syarat berdirinya sebuah negara, kita tidak bisa hanya mengambil mahkota bunganya, tetapi juga batang, daun, duri, akar, agar jelas dan ada transparansi bahwa itu benar bunga mawar.

Penulis Resensi: Dilla Zahrah Syawaliani