Manusia Adalah Monster

download

Judul buku: Kumpulan Budak Setan

Penulis: Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2010

Tebal: 174 halaman

ISBN: 9789792254754 (ISBN10: 9792254757)

Melampaui Ketakutan Klise

Horor sering kali dianggap sebagai genre yang melelahkan karena plotnya yang repetitif dan relatif tetap. Kita terbiasa dengan pola onset-discovery-confirmation-confrontation yang bertujuan mengembalikan tatanan dunia dari gangguan makhluk gaib. Namun, buku Kumpulan Budak Setan (2013) hadir sebagai sebuah proyek eksperimental yang mencoba menggeser batas-batas tersebut. Para penulisnya, seperti Ugoran Prasad dan Eka Kurniawan, dan Intan Paramaditha tidak lagi sekadar menakut-nakuti pembaca dengan hantu, melainkan memaksa kita menatap cermin yang memperlihatkan bahwa “manusia adalah monster”.

Eksperimen ini dilakukan melalui penembusan batas antara dunia natural dan supranatural, serta pembauran tema asmara, kekerasan, dan seksualitas. Menggunakan kacamata stilistika dan ideologi, kita dapat melihat bahwa kekuatan cerpen “Topeng Darah” dan “Jimat Sero” terletak pada bagaimana monstrositas diposisikan bukan sebagai musuh, melainkan sebagai identitas yang dipilih secara sadar. Esai ini akan membedah bagaimana struktur aktan, plot, dan pilihan bahasa dalam kedua karya tersebut membuktikan bahwa kengerian paling nyata lahir dari hasrat manusia yang tidak terbatas.

Eksperimen Monstrositas dalam “Topeng Darah”

Dalam “Topeng Darah”, Ugoran Prasad memperkenalkan sosok Iskandar, seorang pria metodis yang terobsesi pada sepotong pecahan topeng abad ke-9 yang ditawarkan di kolom terapi kebugaran. Secara ideologis, Iskandar adalah subyek yang mengalami “interpelasi”, di mana ia terserap ke dalam sebuah identitas baru melalui objek supranatural tersebut. Topeng itu menjanjikan perwujudan “mimpi tergelap”, sebuah tawaran yang memicu rasa penasaran (curiosity) yang sangat pribadi bagi Iskandar.

Kajian stilistika memperlihatkan bagaimana penulis membangun suasana “abjek” atau rasa jijik yang luar biasa sebelum Iskandar benar-benar menjadi monster. Perhatikan deskripsi Iskandar saat melihat pemilik topeng: “Kini, yang Iskandar lihat dengan perasaan jijik, adalah tubuh yang dipenuhi kulit bergelambir, di lengan, dada, perut, leher, punggung dan pipinya. Sekilas seperti laki-laki kecil dan kurus yang memakai sarung dari kulit manusia”. Penggunaan frasa “sarung dari kulit manusia” memberikan konotasi bahwa kemanusiaan subyek tersebut telah hilang, digantikan oleh sesuatu yang mengerikan. Namun, bukannya menjauh, Iskandar justru melangkah lebih jauh ke dalam kegelapan tersebut.

Transgresi dan Transitivitas Kekerasan

Puncak dari tesis “manusia adalah monster” terlihat jelas saat Iskandar menggunakan topeng tersebut dan memasuki dunia ritual yang brutal. Di sini, penulis menggunakan strategi “transitivitas” untuk menunjukkan bagaimana pengalaman kekerasan diproses menjadi kebahagiaan estetis. Iskandar tidak lagi melakukan konfrontasi terhadap monster, melainkan ia sendiri  menjadi monster yang melakukan kanibalisme. Penulis menggambarkan proses material dan mental Iskandar dengan sangat visceral:

“Darah dan daging segar memenuhi mulutnya, merambat turun tenggorokan, jatuh ke dalam perutnya, lalu bercampur bersama darah dan dagingnya sendiri, mengikat tulang-belulang di tubuhnya, memberikan daya hidup tak pernah dikiranya ada dan disediakan dunia”.

Kutipan ini menunjukkan penyatuan total antara yang natural (manusia) dan yang supranatural (setan). Iskandar tidak merasa bersalah (guilty feeling), ia justru merasa “segala inderanya tak pernah terjaga seperti ini sebelumnya”. Kejahatan Iskandar menjadi sempurna karena ia melakukannya dengan “akal bulus, rencana yang rapi, dan disiplin,” nilai-nilai yang ia yakini diajarkan oleh setan. Monstrositas di sini adalah proyeksi dari krisis ideologi Iskandar yang menganggap kebahagiaan hanya bisa dicapai melalui pemenuhan hasrat seksual serta penghancuran orang lain.

“Jimat Sero” dan Subversi Moralitas

Eka Kurniawan dalam “Jimat Sero” menawarkan eksperimen yang sedikit berbeda namun memiliki muatan ideologis yang sama kuatnya. Tokoh “Aku” dalam cerpen ini adalah representasi dari subyek yang mengalami trauma kekerasan di masa kecil. Rasa takut akan dirundung mendorongnya untuk menerima “jimat sero” dari Rohman. Jimat ini menjanjikan kekebalan fisik, sebuah janji yang mengubah struktur aktan sang tokoh dari “korban” menjadi subyek yang memiliki kuasa.

Gaya horor yang dibangun Eka Kurniawan di sini mengarah pada efek shudder-sweet, sebuah ketakutan yang manis dan menggetarkan. Hal ini terlihat dari cara sang tokoh mencerap darah korbannya, yaitu Nasrudin: “Ternyata darah tidak semerah yang kubayangkan… Darah lebih seperti warna kelopak mawar yang membusuk. Dan aku suka warna itu mengalir dari sudut bibir Nasrudin”. Pilihan diksi “kelopak mawar yang membusuk” menunjukkan bahwa kengerian telah menjadi objek estetis yang dinikmati. Kekerasan bukan lagi gangguan, melainkan kebutuhan eksistensial untuk menegaskan identitas diri sebagai makhluk yang kuat.

Ahli Palsu dan Kedamaian yang Patologis

Salah satu poin krusial dalam “Jimat Sero” adalah pengabaian terhadap kaidah plot horor tradisional yang biasanya diakhiri dengan tatanan yang stabil (reorder). Sang tokoh menemukan bahwa Rohman, “ahli” yang memberinya jimat, justru bersetubuh dengan tunangannya, Raisa. Dalam tatanan moral normal, peristiwa ini seharusnya memicu kemarahan. Namun, sang tokoh justru merasa senang: “Tapi malam ini, bertahun-tahun kemudian, aku mengingatnya. Tapi aku senang-senang saja. Aku senang melihat darah di tanganku. Aku senang melihat Raisa mandi keringat di tempat tidur”.

Secara ideologis, cerpen ini menunjukkan bahwa manusia bisa menjadi monster bukan melalui agresi, melainkan melalui kepasrahan yang ganjil terhadap kehinaan moral demi mendapatkan rasa aman supranatural. Tokoh “Aku” memilih untuk menjadi monster yang pasif, yang membiarkan otoritas seksualnya dieksploitasi asalkan ia tetap memiliki “jimat sero” di saku celananya. Ini adalah perlawanan terhadap ideologi patriarki sekaligus bentuk perundingan yang mengerikan antara martabat manusia dan perlindungan klenik.

Ketika Tatanan Tak Kembali

Esai ini telah menunjukkan bagaimana cerpen “Topeng Darah” dan “Jimat Sero” membuktikan tesis bahwa “manusia adalah monster”. Keduanya tidak menggunakan hantu sebagai ancaman eksternal yang harus diusir, melainkan sebagai saluran ideologis bagi hasrat dan kecemasan manusia. Iskandar dalam “Topeng Darah” berakhir dalam kesia-siaan yang membeku setelah mencoba mencapai kelipatan kesempurnaan melalui darah. Sementara itu, tokoh dalam “Jimat Sero” berakhir dalam kepuasan patologis yang mengabaikan harga diri.

Eksperimen transgresi dalam Kumpulan Budak Setan berhasil melampaui batasan moralitas hitam-putih. Tidak ada tahap reorder yang benar-benar memulihkan kestabilan masyarakat, melainkan sistem moral tetap berada dalam kondisi gangguan (disorder). Pada akhirnya, horor sejati bukan terletak pada apa yang bersembunyi di bawah tempat tidur kita, melainkan pada apa yang kita lakukan ketika kita memegang topeng atau jimat yang menjanjikan kuasa tanpa batas. Manusia, dalam kesunyian hasratnya, adalah monster yang paling menakutkan bagi dirinya sendiri.

Penulis Resensi: Akmal Hafizh Haqqani

Judul buku: Kumpulan Budak Setan

Penulis: Wijaya Herlambang

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2010

Tebal: 174 halaman

ISBN: 9789792254754 (ISBN10: 9792254757)